Mengapa kamera digital berbeda dengan camcorder

gaptek28.wordpress.com

Kepraktisan. Ya, itulah yang melandasi tren konvergensi antara kamera digital dan camcorder belakangan ini. Pemikiran simpel yang mengemuka : mengapa tidak dibuat satu perangkat saja : kamera digital yang bisa merekam video (atau camcorder yang bisa mengambil foto). Upaya produsen pun lantas bak gayung bersambut yang mulai menawarkan kualitas video HD pada kamera digital termasuk DSLR, dan di lain pihak camcorder masa kini pun semakin baik dalam urusan memotret / membuat still foto. Sekian waktu berselang, saya tanya pada anda : apakah anda sudah menemui produk yang benar-benar hybrid (sama baiknya dalam urusan foto dan video) ? Rasanya belum ada. Sebaik-baiknya kamera digital membuat video, hasil videonya masih kalah dengan camcorder. Pun sebaliknya, hasil foto dari camcorder masih belum bisa menyamai hasil foto dari kamera digital.

Oke, fakta ini lambat laun akan berubah di masa depan. Namun setidaknya saat ini mungkin timbul pertanyaan di benak kita, mengapa demikian sulit untuk membuat produk hybrid sesungguhnya? Padahal baik kamera digital ataupun camcorder sama-sama memiliki lensa, sama-sama memiliki sensor dan prinsip kerjanya pun sama. Saya mencoba mencari tahu atas pertanyaan ini dan inilah kira-kira jawabannya :

  • perbedaan ukuran sensor : kamera digital punya sensor lebih besar untuk detail foto, sementara camcorder tidak perlu sensor besar karena resolusi video lebih kecil dari foto. So, camcorder akan berkutat pada masalah noise, low dynamic range, low contrast dan tidak tajam saat ‘dipaksa’ mengambil foto.
  • perbedaan bukaan diafragma : camcorder punya bukaan diafragma lensa yang lebih besar untuk meningkatkan kemampuannya merekam di area kurang cahaya, sedang kamera digital (apalagi yang generasi baru) punya bukaan maksimal sekitar f/3.3 yang kurang besar untuk ukuran video recording. Walhasil, merekam video pakai kamera digital di dalam ruangan hanya menghasilkan video yang buram dan gelap.
  • perbedaan mekanisme zoom optik : motor zoom di kamera digital menghasilkan suara noise yang akan ikut terekam saat merekam video. Maka itu kebanyakan kamera digitak tidak bisa zoom saat sedang merekam video, perkecualian kamera digital dengan zoom manual (seperti Lumix FZ50, Fuji S100FS dan DSLR).
  • perbedaan mekanisme auto fokus : meski semestinya auto fokus pada camcorder dan kamera digital bekerja dengan prinsip yang sama, tapi tetap saja ada perbedaan antara keduanya. Itulah mengapa camcorder lebih cepat menemukan fokus saat melakukan zoom-in atau zoom-out, sementara pada kamera digital harus bersusah payah mencari fokus saat merekam video yang sedang di-zoom.
  • perbedaan media simpan : dengan tingginya data rate untuk sebuah rekaman video (apalagi yang berkualitas tinggi) maka diperlukan media simpan data yang lega dan cepat. Untuk itu camcorder menyediakan media simpan seperti hard disk atau DVD yang kapasitasnya tinggi, plus punya kecepatan baca tulis yang baik. Sementara kamera digital hanya mengandalkan flash-based memory yang punya banyak pilihan merk, kapasitas dan kecepatan yang berbeda.
  • perbedaan kompresi video : terkait media simpan di atas, kompresi video untuk camcorder lebih ringan dan tidak terlalu mengorbankan kualitas video. Lain halnya dengan pada kamera digital, dibutuhkan kompresi yang berat dan beresiko menurunkan kualitas video demi menghindari beban pada prosesor kamera, buffer dan terjadinya bottle neck saat penulisan data ke memori. Jadi, meski sama-sama beresolusi HD, video hasil rekaman memakai kamera digital masih kalah tajam dibanding video hasil rekaman dari camcorder.

Mungkin masih ada alasan dan jawaban lainnya, tapi setidaknya apa yang saya tulis diatas sudah cukup menggambarkan perbedaan mendasar antar keduanya. Bila disimpulkan, sebuah camcorder kurang baik untuk mengambil foto lebih karena keterbatasan ukuran dan resolusi sensornya. Namun sebuah kamera digital akan memiliki banyak kesulitan saat dipakai untuk merekam video karena faktor lensa (bukaan diafragma, auto fokus, mekanisme zoom) dan faktor file video itu sendiri (jenis media simpan dan teknik kompresi video).

Yang terjadi selanjutnya, bila sebuah camcorder hendak memiliki kemampuan yang baik untuk memotret, tentu dibutuhkan sensor yang lebih besar yaang berarti lensa yang juga lebih besar, ukuran fisik keseluruhan yang juga lebih besar dan beresiko naiknya harga dan jadi kurang portabel. Maka itu saya pesimis kalau di kemudian hari camcorder bisa menghasilkan foto yang baik, misal beresolusi 10 mega piksel, kecuali camcorder kelas profesional.

Lain halnya pada kamera digital. Untuk menjadi kamera hybrid yang baik untuk memotret dan baik juga untuk video, masih banyak harapan untuk penyempurnaan. Ambil contoh misal betapa Panasonic dengan cermat mendesain Lumix GH1 sehingga bisa menyiasati beberapa keterbatasan yang ada. Dengan lensa Lumix HD, bisa didapat auto fokus yang cepat saat merekam video. Belum lagi sensor Four Thirds yang dipakainya akan memberi jaminan bokeh yang baik untuk foto dan video (bayangkan video yang punya latar belakang blur, pasti keren seperti video profesional). Plus kemampuan merekam audio stereo (Dolby Digital) dan pilihan codec yang lengkap, menjadikan Lumix GH1 ini sebagai salah satu produk hybrid yang (saya prediksi) akan sukses di pasaran (terlepas dari harga jualnya yang mahal).

0 komentar:

Posting Komentar

Free Domain
 

Tags

My Blog List

Site Info

Please Comment..

Followers

Sekilas Desain Grafis Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template